Home » Unik - Aneh » Semut Pun Melindungi Pepohonan
Semut Pun Melindungi Pepohonan
Diposting oleh Unknown
SEMUT. Pasti kita sering melihat semut, binatang yang sangat kecil itu.
Apalagi kalau digigit oleh semut, pasti gigitannya terasa sangat sakit
di tubuh kita, bukan? Meskipun dia bertubuh kecil, tapi Allah jadikan
bangsa semut ini berguna untuk makhluk lainnya.
“Keseimbangan ekologi”
yang Allah ciptakan dapat membuat kehidupan saling melengkapi dan
membutuhkan satu sama lain. Yuk, lebih lanjut kita pelajari kehidupan
semut…
Semut-semut ini memanjat pohon, melindungi pohon dari ulat penyerang
pohon yang suka memakan pohon dan daun. Allah menjadikan koloni semut
suka memakan ulat.
Di dalam kantung tumbuhan yang diberi nama “kantong-semar“ Nepenthes
bicalcarata yang hidup di sebelah India Timur, hiduplah koloni semut.
Tumbuhan ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang
menghinggapinya. Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil
sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari tumbuhan ini.
Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan.
Meski semut mungkin saja dimakan oleh Nepenthes, namun mereka dapat
membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang tumbuhan juga menyisakan
jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Sebagai
balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya.
Begitulah contoh hubungan kehidupan antara tumbuhan dan semut. Bentuk
anatomi dan fisiologi semut dan tumbuhan inangnya telah dirancang
sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya.
Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarjenis
makhluk hidup ini berkembang secara berangsur-angsur selama jutaan
tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk
yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat merencanakan suatu
sistem yang menguntungkan kedua belah pihak tidaklah masuk akal. Lalu,
apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?
Ternyata, semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan
bernama “nektar tersisa” yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini
merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan.
Banyak
spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu
tertentu. Misalnya, pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga
minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu ini bukan
kebetulan karena waktu tiga minggu tersebut bertepatan dengan waktu
sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam. Semut yang tertarik pada nektar
dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.
Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini
adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima
bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu
memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan
cara menarik perhatian semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon
ceri tidak punya otak.
Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir,
memperhitungkan, maupun mengubah campuran kimianya. Bila kita menganggap
bahwa cara cerdas ini adalah sifat yang diperoleh dari suatu kebetulan,
yaitu dasar berpikir evolusi, tentu ini tidaklah masuk akal. Jelas
sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada
kecerdasan dan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah
bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah Kehendak
yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk
pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa
atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan
lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas
semesta alam dan telah mengatur setiap bagian alam secara terpisah namun
serasi dan selaras sehingga membentuk sebuah rangkaian sempurna yang
kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih jauh
dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita
akan sampai pada gambaran yang serupa.
Ke mana pun kita melangkah, kita
akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan
teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur.
Meskipun demikian, tidak satu pun unsur pembentuk alam ini yang mampu
berfungsi sebagai Sang Pengatur itu. Oleh karena itu, Sang Pengatur
haruslah Dia Yang Maha Tahu dan Maha kuasa atas alam semesta. Al- Qur’an
menggambarkan Sang Penguasa sebagai berikut:
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,
Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadanya apa yang
ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha
bijaksana.” (QS. Al-Hasyr, 59:24) Maha benar Allah dengan segala
firman-Nya.
Label:
Artikel Islam,
Biologi,
Kamu Harus Tahu,
Unik - Aneh
