hari Senin (19/11/12) masa depan bangsa adalah milik pahlawan yang gigih
dan bukan pada induk domba. Nasrullah juga berjanji bahwa Iran, Suriah
dan Hizbullah tidak akan meninggalkan kelompok-kelompok perlawanan di
Gaza.
Sayyid Nasrallah juga menanggapi pernyataan Menteri Luar
Negeri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al-Thani dalam pertemuan darurat
tingkat menteri Liga Arab pada Sabtu (17/11) malam yang membahas agresi
Israel di Gaza mengatakan, "Serigala makan domba, mereka mengatakan
Israel bukan serigala, namun kebanyakan dari kita adalah domba," kata FM
Qatar.
Dalam hal ini Hasan Nasrullah mengatakan; “Di Palestina,
Libanon, dan banyak lagi dari dunia Arab, ada singa dan pahlawan. Dia
yang melihat dirinya sebagai seekor domba betina, biarkan dia berbicara
tentang dirinya sendiri, dia tidak berhak untuk mengatakan bahwa
sebagian besar orang Arab adalah domba,” kata Sayyid Nasrallah
menanggapi Sheikh Hamad bin Jassim Al-Thani.
"Ada pemerintah,
para pemimpin dan awak media yang telah menjadi domba," kata Sayyid
Nasrallah menambahkan. “Singa dan pahlawan adalah orang-orang yang akan
membuat sejarah dan prestasi bangsa ini, seperti yang terjadi di
Libanon pada 2006 dan Gaza 2008, dan seperti yang terjadi hari ini di
Gaza, ini adalah masa depan dari para pahlawan dan bukan dari domba!. "
Bagaimana Rudal Masuk Ke Gaza?
Menurut
salah seorang pejabat dari negara Arab tertentu yang mengatakan,
"Palestina tidak boleh diberi harapan lebih dari yang kita bisa lakukan.
Bantuan yang dijanjikan oleh negara-negara Arab jangan sampai ke tangan
Palestina”. Sayyid Hasan Nasrullah memberikan catatan bahwa beberapa
warga dan pemimpin Arab berkontribusi memblokade Gaza . " Ini adalah
pengakuan yang baik, kata Sekjen Hizbullah dalam pidato pada malam
kelima Muharram dan bertanya-tanya "Bagaimana bisa sejumlah besar rudal
sampai ke tangan perlawanan Palestina. Siapa yang mengirim dan yang
menerima itu? Siapa yang mengaktifkan Gaza, selain kehendak Allah, untuk
melawan dan menghancurkan persenjataan Israel. Dan bagaimana rudal
anti-pesawat bisa sampai ke tangan-tangan perlawanan di Gaza? , Ini
sesuai dengan apa yang kita dukung hari ini dan harus kita dukung, kita
harus menyadari siapa yang menghidupkan Gaza hari ini untuk tetap
berdiri di atas kaki sendiri melawan kemudian membom Tel Aviv dan
Yerusalem. Ini adalah peran Republik Islam Iran dan Suriah dalam
mempersenjatai perlawanan Palestina." Kata beliau menunjukkan.
"Arab
hari ini mengakui bahwa mereka telah mengepung Gaza, Arabisme riil dan
Islam sejati adalah ketika negara-negara Arab mengirimkan senjata ke
Gaza, karena Israel saat ini bertaruh pada stockpile roket di Gaza,"
kata Sayyid Nasrallah.
Senjata Harus Dikirim ke Gaza, Bukan Suriah
Sayid
Hasan Nasrullah juga mengkritik beberapa negara Arab yang aktif
mengirimkan senjata untuk oposisi bersenjata di Suriah dan bukan
mengirimnya ke Gaza, Sayyid Nasrallah mengatakan: "Salah satu tugas yang
paling penting adalah membuka perbatasan Gaza dan mensuplai rudal lebih
banyak lagi untuk resistensi. Orang-orang Arab yang mengirim senjata ke
pemberontak di Suriah, mereka sama sekai tidak berani mengirim satu
peluru pun ke Gaza, karena musuhnya adalah Israel.? "
Sayyid
Nasrullah menegaskan bahwa Iran, Suriah dan Hizbullah tidak dan tidak
akan pernah meninggalkan rakyat dan perlawanan Gaza, ini adalah tugas
agama, moral dan kemanusiaan kita!
Nasrullah juga menekankan
untuk tetap tabah di tubuh perlawanan di Gaza dan selalu mengikuti
kondisi dimana Zionis saat ini tengah mencari solusi keluar dari petaka
dengan gencatan senjata untuk mengembalikan situasi sebelum pembunuhan
Ahmed Al-Ja'abari, namun perlawanan menolak solusi ini.
Israel Mentargetkan Warga Sipil Karena Ketakutan
Bank
Israel saat ini telah bangkrut sehingga target pembunuhan Israel
seperti melakukan jenis-jenis pembantaian, "Beberapa sasaran Israel di
Gaza telah dibom lagi dan lagi, dan roket perlawanan masih ditembakkan
dari Gaza dan menghantam di kedalam entitas Zionis. Zionis kembali ke
alam kriminal mereka dengan membunuh sejumlah besar anak-anak, perempuan
dan warga sipil sejak kemarin. Hal ini mencerminkan kegagalan operasi
militer Israel di Gaza dan kegagalan mencapai tujuannya menghentikan
gerakan perlawanan dan melepaskan kondisi yang sah, "kata Sayyid
Nasrallah.
"Sebagaimana warga Gaza menyaksikan pada tahun 2008,
dan seperti yang kita alami perlawanan di Libanon, dan para pemimpinnya
telah mengatasi era dimana senjata mereka digunakan untuk membantai
anak-anak dan wanita," katanya.
Arab Tidak Membawa Sesuatu yang Baru dalam Rapat Darurat
Membandingkan
pernyataan dari pertemuan 2008 dari pertemuan Menteri Luar Negeri Arab
dan pernyataan mereka Sabtu (17/11) lalu, Sayyid Nasrallah mengatakan
bahwa kedua pernyataan itu sama dan ulangan, kecuali pada dua item.
"Yang pertama meminta semua negara menghentikan semua bentuk normalisasi
dengan" Israel ", ini adalah kepastian. Yang kedua adalah menetapkan ke
Komite Prakarsa Perdamaian Arab untuk menilai kembali posisi Arab pada
proses perdamaian.. Ini adalah kemampuan maksimal negara-negara Arab di
era 'Arab Spring'.
Sayyid Hasan Nasrullah menambahkan, "Jelas,
kami berharap lebih dari itu, tapi kami tidak pernah berharap
berlebihan. Negara-negara Arab hanya diharapkan bisa mendukung dan
mempersenjatai Gaza dan bukan bekerja sebagai perantara antara musuh
Israel dan Gaza.. Ini jelas, bahwa negara-negara(Arab) hanya mendapatkan
keuntungan dengan menjadi bulan sabit merah saja. "